Pengertian Lalat Buah

Pengertian Lalat Buah

Lalat buah (Bactrocera spp.) berasal dari daerah tropis Asia dan Afrika serta subtropis Australia dan Pasifik Selatan. Selanjutnya hama ini menyebar ke India, Pakistan dan Asia Tenggara. Lalat buah masuk ke Indonesia sejak tahun 1920 dan dilaporkan telah menyerang lebih dari seratus jenis tanaman hortikultura (Kalie, 1996). Pada saat ini, hama lalat buah telah menyebar hampir di seluruh wilayah Indonesia yaitu Sumatera, Jawa, Madura dan kepulauan Riau (Hidayat dan Siwi 2004).

Di Indonesia pada saat ini telah dilaporkan ada 66 spesies lalat buah. Diantaranya species itu, yang dikenal sangat merusak yaitu Bactrocera spp. Pada iklim yang sejuk, kelembaban yang tinggi dan angin yang tidak terlalu kencang intensitas serangan dan populasi lalat buah akan meningkat (Putra, 1997). Faktor iklim sangat berpengaruh terhadap sebaran dan perkembangan hama (Lakitan, 2002). Lalat buah hama dapat menimbulkan kerusakan yang bersifat kualitatif (berpengaruh pada mutu hasil panen) maupun kuantitatif (berpengaruh pada jumlah panen). Buah yang diserang sindat lalat buah akan membusuk, kemudian jatuh ke tanah (rontok). Di negara-negara tropik seperti di Indonesia, lalat buah memperoleh lingkungan yang pas, terutama karena tersedia pakan yang melimpah dan didukung oleh iklim yang ideal. (Putra, 1997).

Di Indonesia terdapat paling sedikit 62 spesies lalat buah, 26 spesies di antaranya ditemukan di Jawa. Dari spesies 12 yang ada, hanya kurang dari lima spesies merupakan hama yang merugikan, salah satu di antaranya adalah Dacus (Syn. Bactrocerta) dorsalis (Hendel) yang menurut Kalshoven (1981) banyak menimbulkan kerusakan pada bebuahan seperti belimbing, mangga, jeruk dan cabai merah. Menurut McPheron (2000) dalam Astriyani (2014), pada beberapa spesies lalat buah (familia Tephritidae) sering terbentuk kompleks spesies sebagai akibat terjadinya perubahan, secara evolusi, pada perilaku ataupun sifat-sifat ekologis yang tidak disertai perubahan sifat morfologi yang jelas. Hal semacam ini diantarnya terjadi pada Bactrocera dorsalis.

Drew dan Hancock (1994) dalam Astriyani (2014) telah mengidentifikasi ulang spesies tersebut dan membaginya menjadi 52 sibling atau cryptic species. Dari antaranya, dua spesies simpatrik yang terdapat di Indonesia adalah B. caraambolae (Drew & Hancock) dan B. papayae (Drew & Hancock) yang sebelumnya oleh Vijaysegaran dan Osman (1992) dalam Astriyani (2014), di Malaysia, disebut sebagai Bactrocera taxon A dan Bactrocera taxon B. Sangat dekatnya hubungan kekerabatan telah menyebabkan berbaurnya kedua spesies simpatrik tersebut di lapang. Keduanya sangat mirip namun memiliki perbedaan dalam preferensi, atau kesukaan inang, dan daerah sebar (Zubaidah, 2008).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *