Pengertian Minyak Pala

Pengertian Minyak Pala

Buah pala menghasilkan biji pala (nutmeg) dan pembungkus biji (fuli; maces). Umumnya setelah dikeringkan, kedua hasil itu diekspor langsung. Di negara perantara, atau pemakai, biji dan fuli yang utuh dan besar, langsung digunakan untuk rempah-rempah. Biji dan fuli yang kecil dan cacat, dijadikan serbuk untuk disuling, dikempa atau dijadikan oleoresin (Harris, 1987).

Minyak pala merupakan cairan jernih (hampir tidak berwarna) sampai kuning muda. Sifat-sifat minyak dari biji teryata tidak berbeda dengan minyak dari fuli pala. Bahkan kebanyakan minyak pala dihasilkan dari campuran biji dan fuli pala. Minyak pala jika di biarkan di udara terbuka akan berubah menjadi kental karena terjadi pristiwa polimerisasi dan berbau terpentin atau berbau campuran yang tidak menyenangkan (Harris, 1987).

Kecuali disuling, serbuk biji dan fuli pala dapat dikempa menggunakan alat pengempa tekanan udara panas. Cara ini menghasilkan nutmeg concrete (pekat, mencair pada suhu 45°C), ini mengandung minyak terbang sekitar 12%, damar, dan juga gliseril miristikat. Dalam industri wewangian, biasanya minyak pala dicampur dengan air lavender untuk menghasilkan bau yang harum dan lembut serta sulit ditiru (Harris, 1987).

Sejak akhir tahun 1960-an, negara-negara yang maju menghasilkan mace-oleoresin dan nutmeg oleoresin. Kedua oleoresin ini mempunyai pasaran yang luas dalam industri makanan, seperti daging, kue, acar, sampai ke saus tomat. Kedua oleoresin ini lebih digemari dari pada nutmeg concrete karena bentuknya cair meskipun konsistensinya kental (Harris, 1987).

Mace oleoresin dan nutmeg oleoresin bisa digunakan secara terpisah atau saling melengkapi. Mace oleoresin membawa rasa hangat dan pedas dari pala, tetapi kurang mengandung aroma. Sementara nutmeg oleoresin mengandung aroma pala, tetapi kurang memiliki rasa. Rendemen untuk mace oleoresin berkisar antara 30%-35%, dan nutmeg oleoresin sekitar 35%-40%. Produsen dan sekaligus pengekspor kedua oleoresin terbesar adalah Inggris dan Amerika Serikat (Harris, 1987).

Pada prinsipnya komponen dalam biji pala dan fuli terdiri dari minyak atsiri, minyak lemak, protein, selulosa, pentosan, pati, resin dan mineral-mineral. Persentase dari komponen-komponen bervariasi dipengaruhi oleh klon, mutu dan lama penyimpanan serta tempat tumbuh. Kandungan minyak lemak dari biji pala utuh bervariasi dari 25% sampai 40%, sedangkan pada fuli antara 20% sampai 30%. Biji pala yang dimakan ulat mempunyai presentase minyak atsiri lebih tinggi dari pada biji utuh karena pati dan minyak lemaknya sebagian dimakan oleh serangga. Biji pala mengandung minyak atsiri sekitar 2%-16% dengan rata-rata pada 10% dan fxed oil (minyak lemak) sekitar 25%-40% karbohidrat sekitar 30% dan protein sekitar 6% (Yuliani dan Satuhu, 2012).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *