Klasifikasi Dan Morfologi Hama Kutu Daun Persik (Myzus persicae Sulz)

Klasifikasi dan Morfologi Hama Kutu Daun Persik (Myzus persicae Sulz)

Menurut Deptan (2005) taksonomi hama kutu daun persik ialah sebagai berikut :

Klasifikasi Kutu Daun Persik (Myzus persicae Sulz)

Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Famili : Aphididae
Ordo : Homoptera
Genus : Myzus
Spesies : Myzus persicae Sulz

Morfologi Kutu Daun Persik (Myzus persicae Sulz)

Myzus persicae merupakan serangga yang termasuk dalam golongan famili aphid. Di Indonesia ada beberapa jenis aphids yang sering menyerang dan ditemukan pada tanaman sayuran seperti cabai terutama di daerah Jawa diantaranya M. persicae, A. gossypii dan A. Spiraecola. Diketahui bahwa hama aphids ini merupakan salah satu hama serangga yang paling utama dan penting di dunia. (Anonim, 1985).

Myzus persicae adalah kutu daun yang berwarna kuning kehijauan atau kemerahan. Baik kutu muda (nimfa atau apterae) maupun dewasa (imago atau alatae) mempunyai antena yang relatif panjang, kira-kira sepanjang tubuhnya. Panjang tubuh kurang lebih 2 mm. Tubuh lembut seperti buah pir. Hidupnya berkelompok pada bagian bawah helaian daun atau pada pucuk tanaman. Nimfa dan imago mempunyai sepasang tonjolan pada ujung abdomen yang disebut kornikel. Ujung kornikel pada kutu daun persik berwarna hitam. Kutu daun dewasa dapat menghasilkan keturunan (nimfa) tanpa melalui perkawinan. Sifat ini disebut Partenogenesis. Satu ekor dewasa dapat menghasilkan kira-kira 2-20 anak setiap hari dan bila keadaan baik daur hidupnya 2 minggu. Selama tidak mengalami gangguan dan makanan cukup tersedia, kejadian tersebut berlangsung terus menerus sampai populasi menjadi padat. Nimfa terdiri atas 4 instar. Nimfa-nimfa yang dihasilkan tersebut pada 7 – 10 hari kemudian akan menjadi dewasa dan dapat menghasilkan keturunan lagi. Lama stadium tersebut tergantung pada suhu udara. Hama kutu daun tersebut antara lain terdapat di Sumatera, Jawa, dan Sulawesi (Pracaya, 2008).

Kutu daun yang berada pada permukaan bawah daun mengisap cairan daun muda dan bagian tanaman yang masih muda. Daun yang terserang akan tampak berbercak-bercak. Hal ini akan menyebabkan daun menjadi keriting. Pada bagian tanaman yang terserang akan didapati kutu yang bergerombol. Bila terjadi serangan berat daun akan berkerut-kerut (menjadi keriput), tumbuhnya kerdil, berwarna kekuningan, daun-daunnya terpuntir, menggulung kemudian layu dan mati. Kutu daun persik merupakan hama yang menjadi hama utama karena beberapa alasan diantaranya mampu bertahan hidup pada hampir semua tanaman budidaya, merupakan penular yang paling efisien dibandingkan hama lainnya dan terakhir beberapa populasi telah mengalami mutasi sehingga memiliki kekebalan dibandingkan jenis aphids yang lain akibatnya spesies ini cenderung lebih sulit dikendalikan (Anonim,1985).

Kutu daun merupakan vektor penting yang dapat menularkan penyakit virus menggulung daun kentang (Potato Leaf Roll Virus/PLRV) dan virus Y (Potato Virus Y/PVY). Gejala serangan penyakit virus tersebut adalah daun-daun kentang menggulung ke atas (PLRV) atau kekuning-kuningan (gejala mosaik) karena serangan PVY. Infestasi berarti infeksi (masuknya bibit penyakit) yang melaju secara cepat pada permukaan atau menyebar pada tanaman. Infestasi aphids dimulai saat beberapa serangga aphids yang bersayap hinggap pada tanaman inang dimanapun berada. Aphids yang beterbangan dan hinggap di tanaman tersebut bisa saja berasal dari beberapa tempat mulai dari yang jarak terdekat hingga beratus-ratus kilometer. Pada tanaman kentang, aphids jenis Myzus persicae (kutu daun persik) selalu ditemukan pada bagian daun yang paling bawah. Bila infestasi aphids menjadi besar dan mengumpul, aphids-aphids tersebut akan bergerak ke bagian atas daun untuk menghisap bagian daun yang lebih muda (Anonim, 1985).

Tanaman inangnya lebih dari 400 jenis, dengan inang utama pada sayuran adalah cabai, kentang dan tomat. Kutu ini dapat berperan sebagai vektor lebih dari 90 jenis virus penyakit pada sekitar 30 famili tanaman antara lain meliputi jenis kacang-kacangan, bit-gula, tebu, kubis-kubisan, tomat, kentang, jeruk dan tembakau. Populasi hama ini dapat meningkat pada musim kemarau, seballiknya pada musim hujan populasi akan turun (Deptan, 2006).

Pengendalian hama kutu daun ini dapat dilakukan dengan penyemprotan insektisida, bila populasi tinggi (ambang batas), yaitu lebih dari 50 setiap tanaman pada tanaman muda, tanaman pindahan, hampir panen. Musuh alami kutu daun ini dapat berupa paraitoid yaitu Diaretiella rapae, sedangkan predator yang berfungsi sebagai musuh alami dari hama ini seperti kumbang macan, laba-laba, larva dari syrphid, dan belalang sembah (Pracaya, 2008).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *