Habitat Burung Walet

Habitat Burung Walet

Habitat adalah tempat yang digunakan untuk mencari pakan, minuman dan berkembangbiak. Secara alami burung walet merupakan penghuni gua batu kapur yang dikelilingi hutan yang lebat (MacKinnon, 1995). Burung tersebut menggunakan langit-langit gua untuk menempelkan sarang sebagai tempat istirahat atau tidur dan berbiak. Menurut Kepmenhut Nomor 449/Kpts-II/1999, burung walet (Collocalia fuciphaga) menempati habitat dua habitat, yaitu habitat alami dan habitat buatan.

Habitat alami (In-Situ) burung walet adalah gua-gua alam, tebing/lereng bukit yang curam beserta lingkungannya sebagai tempat burung walet hidup dan berkembang biak secara alami, baik yang berada di kawasan hutan maupun di luar kawasan hutan. Habitat buatan (Ex-Situ) burung walet adalah bangunan sebagai tempat burung walet hidup dan berkembang biak. Habitat untuk burung walet dapat diklasifikasikan ke dalam dua kelas, yaitu habitat makro dan mikro. Habitat Makro Burung Walet Habitat makro merupakan daerah tempat burung walet mencari pakan.

Habitat makro burung walet adalah di sekitar pantai dan daerah yang ditumbuhi banyak tanaman atau hutan (Gosler, 2007). Habitat mencari pakan yang paling cocok untuk spesies Collocalia fuciphaga adalah campuran antara sawah dan tegalan (50%), lahan basah (20%), dan daerah berhutan (30%) yang terletak hingga 1.500 m di atas permukaan laut (dpl) (Soehartono dan Mardiastuti, 2003). Faktor pakan sangat bergantung dengan habitat makro, sehingga habitat makro sangat penting bagi kelangsungan hidup burung walet (Sumiati, 1998).

Habitat Mikro Burung Walet Habitat mikro burung walet adalah tempat burung tersebut tinggal, bersarang, dan berkembangbiak. Habitat mikro tersebut ada dua, yaitu gua dan rumah, yang pada hakekatnya mempunyai sifat ekologis yang serupa dalam hal kelembaban, suhu, dan cahaya (Sumiati, 1998). Habitat mikro burung walet yang ideal adalah daerah yang mempunyai kondisi udara dengan suhu 27-29 derajat C dan kelembaban 70-95% (Sofwan dan Winarso, 2005), tenang, aman, tersembunyi dan tidak banyak terganggu predator serta burung walet mudah menempelkan sarangnya dan mudah keluar masuk ruangan. Sedangkan intensitas cahaya yang disukai burung walet adalah mendekati 0 lux (gelap total) (Francis, 1987).

Suhu yang terlalu rendah dapat mengurangi produktivitas sarang, sedangkan kelembaban yang terlalu tinggi dapat menyebabkan pertumbuhan jamur pada tempat peletakan sarang dan terjadi pertumbuhan nyamuk pada genangan air di dalam rumah burung walet (Ibrahim et al., 2009). Selain itu, kondisi sirip burung walet yang terlalu lembab juga tidak disukai burung walet karena dapat menyebabkan sarang mudah lepas dan terjatuh. Menurut Sawitri (2007), upaya untuk menstabilkan suhu dan kelembaban dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya: (1) membuat lubang sirkulasi udara dengan PVC berdiameter 0,75-1” dengan jarak 60 cm di sepanjang dinding, (2) menyediakan air atau arang di dalam tempayan-tempayan, (3) memasang jaringan pipa air pada dinding, (4) membasahi permukaan tembok dan lantai dalam ruangan secara berkala, (5) membuat kolam depan rumah burung walet, (6) melapisi atap plafon dengan aluminium foil, sekam padi, atau kulit kerang, dan (7) memasang sprayer di atap rumah burung walet untuk pengkabutan, terutama pada musim kemarau. Selain itu, menurut Taufiqurohman (2002), dapat juga dilakukan dengan membuat saluran air atau kolam dan atap rumah burung walet berbahan genting. Kolam yang dibuat di atap bertujuan meredam panas radiasi matahari pada siang hari.

Saat terbang dalam kegelapan di dalam gua maupun rumah burung walet, burung ini menggunakan daya ekholokasi untuk melakukan navigasi (Mardiastuti et al., 1998). Daya ekholokasi adalah suatu sistem yang digunakan oleh burung untuk mengenal keadaan lingkungan suatu tempat (terutama dalam keadaan gelap), dengan mengeluarkan suara putus-putus berfrekuensi tertentu dan kemudian menangkap kembali pantulan suara itu dengan telinganya untuk menentukan jarak dan arah dari benda yang memantulkannya. Menurut Thomassen dan Povel (2006), daya ekholokasi digunakan juga sebagai pendeteksi sarang milik burung walet tersebut.

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.