Gejala Serangan Riptortus linearis F

Gejala Serangan Riptortus linearis F

Menurut (Amang, 1996), pada fase pembungaan dan awal pembentukan polong (31-51 HST), serangan hama pada fase pertumbuhan ini menimbulkan kerusakan yang paling berat. Serangan hama utama yang umum dijumpai pada fase pertumbuhan ini adalah kumbang kedelai, ulat grayak (P. inclusa), ulat jengkal (Ch. chalcites), penggerek polong (Etiella zinckeniella), kepik hijau (Nezara viridula), pengisap polong (Piezodorus hyberi), penggulung daun (Lamprosema indicata), kepik coklat atau pengisap polong (Riptortus linearis) dan lalat buah (Heliothis armigera). Menurut Tengkano dan Suhardjan, 1985 dalam (Amang, 1996) kerusakan daun pada fase pembungaan menyebabkan jumlah bunga yang gugur meningkat, sedangkan serangan yang terjadi pada fase pembentukan polong dan awal pengisian biji menyebabkan jumlah polong mengalami kerusakan yang lebih besar. Pada fase pertumbuhan dan pengembangan polong (51-70 HST), juga dijumpai beberapa hama utama yang senantiasa mengancam keberhasilan usahatani kedelai. Ada lima jenis serangga hama yang umum dijumpai dalam fase pertumbuhan tanaman ini ialah penggerak polong (E. zinckeniella dan E. hobsoni), kepik hijau (N. viridula) pengisap polong (P. hybneri dan R. linearis). Masih terdapat sejumlah serangga hama lainnya yang biasa dijumpai pada fase pertumbuhan ini seperti antara lain kumbang kedelai (P. inclusa), kutu kebul (B. tabaci), ulat grayak (S. litura), ulat buah (H. armigera), dan Aphis gossypi (Amang, 1996).

Terdapat beberapa jenis kepik yang merusak polong dan biji seperti Riptortus linearis dan Nezara viridula. Stadia nimfa dan imago dari kepik tersebut merusak polong dan mengisap cairan biji. Caranya dengan menusukkan stiletnya ke kulit polong hingga mencapai biji kemudian mengisap cairan biji tersebut. Serangan pada polong muda menyebabkan biji mengerut dan menyebabkan polong gugur. Serangan pada fase pembentukan dan pertumbuhan polong menyebabkan biji dan polong kempis kemudian mengering. Serangan pada fase pengisian biji menyebabkan biji hitam dan busuk, dan serangan pada polong tua dan biji-bijian telah terisi penuh menyebabkan kualitas biji turun oleh adanya bintik-bintik hitam pada biji atau kulit biji menjadi keriput (Arifin, 2010).

Menurut (Prayogo, 2005), serangan Riprortus linearis F. pada fase pembentukan polong menyebabkan polong kering dan gugur. Serangan pada fase pertumbuhan polong dan perkembangan biji menyebabkan polong dan biji kempes kemudian polong mengering dan akhirnya gugur. Serangan pada fase pengisian biji menyebabkan biji berwarna hitam dan busuk, sedangkan pada fase pematangan polong mengakibatkan biji keriput. Serangan pada polong tua menjelang panen menyebabkan biji berlubang (Prayogo, 2005).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *