Penangkaran Lebah Madu

Penangkaran Lebah Madu

Penangkaran adalah upaya memelihara dan membesarkan benih atau bibit dan anakan dari tumbuhan dan satwa liar dari alam dengan tetap mempertahankan kemurnian jenisnya (Peraturan Pemerintah No. 8 Tahun 1999 Tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar). Kegiatan penangkaran merupakan bagian dari upaya pemanfaatan jenis flora-fauna liar dengan tujuan agar dapat didayagunakan secara lestari untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Pemanfaatan jenis flora-fauna liar dilakukan dengan mengendalikan pendayagunaan jenis flora-fauna atau bagian-bagiannya serta hasil daripadanya dengan tetap menjaga keanekaragaman jenis dan keseimbangan ekosistem.

Dalam kegiatan penangkaran lebah madu, tujuan penangkaran ratu lebah adalah untuk menghasilkan ratu-ratu yang produktif dan sehat. Kebanyakan peternak lebah menginginkan koloni lebahnya memiliki berbagai sifat keunggulan misalnya: tahan terhadap hama dan penyakit, giat dan rajin bekerja, mudah ditangani, tidak agresif, efisien dalam mengkonsumsi makanan cadangan dan lain-lain. Sifat-sifat keunggulan tersebut tidak lepas dari sifat-sifat ratu yang baik (Wijaya, dkk, 1989 dalam Egyanti, 1995).

Menurut Hilmanto (2010), teknik penangkaran yang dilakukan oleh masyarakat lokal, yaitu: (1) pemecahan koloni, pemecahan koloni bisa dilakukan dengan cara penyekatan dan membagi koloni; (2) mengambil ratu yang tidak produktif. Teknik penangkaran ini dilakukan untuk memperbanyak lebah ratu dan pemilihan lebah ratu yang produktif agar dapat diperoleh hasil produksi lebah madu yang optimal. Menurut Wardhani (2010), syarat untuk melakukan penangkaran lebah madu
adalah:

1. Kotak pemeliharaan

Penangkaran lebah ratu hanya dapat dilakukan pada kotak pemeliharaan yang menggunakan bingkai sarang karena memungkinkan untuk mengambil lebah ratu dan memeriksa keberadaan telur dan larva muda di setiap sarangnya.

2. Kondisi koloni

Koloni harus dalam kondisi sehat dan sarangnya penuh dengan telur dan larva muda. Telur dan larva muda adalah bakal calon yang akan dipilih dan dipelihara secara khusus oleh lebah pekerja untuk dijadikan lebah ratu. Apabila jumlah telur dan larva muda terlalu sedikit, koloni dapat gagal menghasilkan lebah ratu.

3. Lokasi

Lokasi penangkaran harus didukung dengan tanaman pakan yang menjamin tersedianya nektar dan tepungsari dalam jumlah yang cukup banyak. Jumlah makanan yang banyak diperlukan agar diperoleh ratu yang berkualitas baik. Nektar dalam jumlah banyak diperlukan untuk mendorong koloni lebah madu membentuk calon-calon lebah jantan dalam jumlah banyak. Selain itu nektar bersama-sama dengan tepungsari juga merupakan bahan dasar untuk memproduksi royal jelly. Penyediaan nektar tidak mutlak harus berasal dari tanaman karena dapat juga diganti dengan larutan gula.

Tepungsari juga harus tersedia dalam jumlah banyak di lokasi penangkaran. Tepungsari diperlukan oleh lebah pekerja muda untuk mengaktifkan kelenjar hypopharyng agar memproduksi royal jelly. Selain itu, tepungsari juga diperlukan untuk meningkatkan produksi dan kualitas sperma lebah jantan. Dalam kegiatan penangkaran ini tidak dianjurkan menggunakan pollen supplement (tepungsari buatan) karena dapat menurunkan kualitas ratu hasil penangkaran.

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Content is protected !!