Klasifikasi Dan Morfologi Lebah Madu

Klasifikasi Dan Morfologi Lebah Madu

Lebah madu termasuk serangga yang memiliki sayap. Lebah madu biasanya hidup secara berkoloni atau berkelompok. Satu koloni lebah madu biasanya dihuni oleh tiga macam lebah yang mempunyai tugas sendiri- sendiri. Pembagian tugas tersebut berjalan sesuai dengan fungsinya masing- masing. Ketiga macam lebah tersebut adalah lebah ratu, lebah pekerja dan lebah jantan. Lebah-lebah pekerja akan mempertahankan koloninya dengan jalan memburu dan menyengat apabila koloni lebah tersebut diusik atau diganggu (Sihombing, 1997).

Klasifikasi Lebah Madu

Kerajaan : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Hymenoptera
Famili : Apidae
Genus : Apis
Spesies : Apis andreniformis, Apis cerana, Apis dorsata, Apis florae, Apis koschevnikovi, Apis laboriosa, Apis mellifera

Morfologi Lebah Madu

Lebah madu memiliki badan yang beruas-ruas dan tiap ruas saling berhubungan. Ruas-ruas ini disebut dengan segmen yang dapat membedakan antara kepala, dada (thorak) dan gembung (perut). Seluruh badannya ditumbuhi bulu yang biasa disebut rambut. Tubuh lebah ditutupi bulu-bulu halus yang berguna untuk menangkap serbuk sari yang diperoleh dari bunga. Serbuk sari yang terkumpul disisihkan ke wadah khusus yang terdapat di tungkai belakang. Mulutnya berbentuk tabung panjang yang dipakai untuk menghimpun nektar yang disimpan dalam lambung madu (tembolok), yaitu bagian usus yang dapat mengembung (Sarwono, 2001).

Kepala lebah menyerupai bentuk segi tiga. Alat penglihatannya berupa mata tunggal dan mata majemuk. Mata tunggal berjumlah tiga buah, terletak di atas bagian kepala dan dipakai untuk melihat benda-benda yang berada dalam jarak sekitar 1-2 cm. Mata majemuk terletak di kedua sisi kepala dan dipakai untuk melihat benda-benda sampai jarak 140 m. Mata majemuk lebah jantan lebih besar bentuknya, mempunyai penglihatan yang lebih sempurna dibandingkan dengan mata lebah pekerja dan mata ratu lebah. Lebah dapat melihat benda dalam jarak dekat dan jauh, lebah juga dapat membedakan antara terang dan gelap (Sarwono, 2001).

Perut tempayak atau larva lebah memiliki sepuluh ruas, tetapi dalam pertumbuhannya salah satu ruas berubah menjadi dada. Pada lebah pekerja, enam ruas pertama terlihat jelas digembungnya dan pada lebah pejantan terlihat tujuh ruas pertamanya. Dalam ruas tulang dada ketiga, keempat dan kelima lebah pekerja terdapat kelenjar lilin lebah. Lilin dikeluarkan dalam keadaan cair, kemudian mengental menjadi keping-keping lilin. Lebah memiliki antena atau sungut yang berpangkal pada bagian tengah kepala. Antena ini merupakan alat peraba dan perasa terhadap rangsangan cuaca dan zat kimia yang ada disekitar lebah. Mulut lebah memiliki rahang yang kuat yang dapat dilihat jelas dari arah depan. Dalam mulut terdapat lidah berbentuk saluran yang penuh dengan bulu lembut dan keras yang dipakai untuk mengisap madu yang terdapat di dalam bunga. Kelenjar ludah dan kelenjar pakan yang menghasilkan sari madu juga terdapat di kepala lebah. Kepala dihubungkan dengan dada oleh leher kecil yang berisi kerongkongan dan saluran kelenjar ludah (Sarwono, 2001).

Bentuk dada lebah hampir bulat, keras dan tersusun atas empat segmen yang tergabung erat. Segmen pertama atau bagian paling depan disebut prothorax, merupakan tempat berpangkalnya kaki pertama. Segmen kedua disebut mesothorax, merupakan bagian paling besar dan tempat berpangkalnya sepasang sayap depan dan sepasang kaki tengah. Segmen ketiga yang bentuknya sempit disebut metathorax, merupakan tempat berpangkalnya sepasang sayap belakang dan sepasang kaki belakang. Segmen keempat disebut propedeum, tidak memiliki tambahan apapun. Lebah memiliki tiga pasang atau enam buah kaki. Kaki muka memiliki tulang kering dan legokan yang berfungsi untuk memanipulasi pekerjaan yang bersifat khusus. Kaki tengah memiliki duri dan kaki belakang lebih panjang dari pada kaki lain dan penuh dengan bulu. Ujung kaki mempunyai sepasang kuku dan gelambir yang lunak untuk memegang atau hinggap di permukaan barang yang licin. Kaki belakang dipakai untuk mengais tepung sari pada bunga. Tepung sari dibulat-bulatkan dengan nektar lalu diletakkan di kaki belakang. Kaki lebah akan menyentuh kepala putik bunga sewaktu mengambil tepung sari sehingga sebagian tepung sari yang menempel di kaki lebah tertinggal dan melekat di sana. Tepung sari itu tumbuh dan masuk ke dalam tiang putik, sehingga terjadi persarian bunga (Soerodjotanojo, 1996).

Pada ujung ruas perut lebah ratu dan lebah pekerja terdapat alat penyengat, tetapi lebah jantan tidak memilikinya. Sengat lebah merupakan suatu bentuk perubahan dari alat pengantar telur, semula merupakan alat untuk meletakkan telur, kemudian berubah menjadi alat untuk menusuk dan memasukkan bisa pada lawannya. Saluran pencernaan lebah dimulai dari mulut, kemudian membentang melalui leher, dada dan berakhir di ujung gembung. Kantung madu, lambung dan usus terdapat di dalam gembung. Hasil pencernaan dibawa langsung oleh darah beningnya untuk diedarkan ke seluruh jaringan tubuh (Sarwono, 2001).

Alat reproduksi lebah jantan berupa sepasang testis yang terletak di sisi kanan dan kiri gembung. Alat reproduksi lebah ratu berkembang sempurna, terdiri dari dua buah ovari besar berbentuk buah apel yang berisi ovariola tertutup. Badan lebah dipenuhi dengan urat-urat daging yang teratur susunannya dan daging yang lembut (Sarwono, 2001).

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Content is protected !!