Klasifikasi Dan Morfologi Sawo

Klasifikasi Dan Morfologi Sawo

Klasifikasi Sawo

Kingdom : Plantae
Divisio : Magnoliophyta
Subdivisio : Magnoliopshida
Classis : Dicotyledoneae
Subclassis : Sympetalae
Ordo : Ebenales
Family : Sapotaceae
Genus : Achras
Species : Achras zapota L.

Morfologi Sawo

Sawo merupakan tanaman yang besar dan rindang, dapat tumbuh hingga 30-40 meter (Morton 1987). Rukmana (1997) menambahkan, kesan rindang yang dimiliki tanaman sawo disebabkan oleh tajuk pohon sawo yang lebar serta daunnya yang lebat. Tanaman sawo merupakan tanaman perennial (hidup menahun). Sawo memiliki batang tanaman yang keras dan percabangannya cukup rapat, dari bagian bawah batang hingga ke ujung tanaman. Seluruh bagian tubuh sawo mengandung getah berwarna putih yang disebut lateks.

Daun sawo berbentuk bundar memanjang dan tumbuh bergeormbol pada bagian ujung tangkai ataupun ranting (Rukmana 1997). Bunga sawo merupakan bunga tunggal yang panjang tangkainya 1-2 cm, bunga sawo kerapkali menggantung (Morton 1987). Pada fase reproduksi, bunga tanaman ini akan muncul dari ketiak-ketiak daun dekat ujung ranting. Bunga sawo merupakan bunga dengan kelamin ganda (biseksual), memiliki 6 tangkai benang sari dan warna bunganya coklat kemerah-merahan (Rukmana 1997).

Buah sawo berkulit tipis, daging buahnya lembut serta berwarna coklat kemerahan sampai kekuningan, rasanya manis dan mengandung banyak sariĀ buah (Morton 1987). Kulit dan daging buah sawo yang sudah matang akan berwarna cokelat dan menghasilkan rasa yang sangat manis. Buah sawo kaya akan karbohidrat, karena komposisi karbohidrat yang dikandungnya mencapai 20% dari total bagian buah (Anonim 2015). Rasa manis pada buah sawo dipengaruhi kandungan glukosa dan fruktosa yang tinggi. Buah sawo mengandung glukosa sebesar 4,2% dan fruktosa sebesar 3,8%. (Rukmana dan Yuniarsih 2001). Menurut Ihsan dan Wahyudi (2010) kadar sukrosa akan mempengaruhi rasa manis pada daging buah. Daging buah yang manis akan memilki kadar sukrosa yang tinggi sementara daging buah yang kurang manis akan memiliki kadar sukrosa yang rendah. Penyusunan sukrosa dibantu oleh zat pembawa pospat yakni UTP (uridin tripospat) Dwijoseputro (1986) dalam Helmiyesi et al (2008).

Pengukuran total padatan terlarut dalam buah sawo dapat menggunakan Hand refractometer. Hand refractometer adalah alat optikal yang dapat meneruskan cahaya melewati bahan cair atau membiaskannya. Padatan terlarut dalam cairan akan menunjukan indeks bias yang berkorelasi dengan jumlah padatan. Cairan yang lebih padat nilai biasnya akan lebih tinggi. Pengukuran padatan terlarut pada hand refractometer dilakukan dengan meneteskan produk pada kaca sensor kemudian diarahkan ke sinar matahari, kemudian angka brix akan dapat terbaca (Harrill 1994).

Pada umumnya buah sawo lokal hanya dapat bertahan pada suhu ruang selama 3 hari, setelah melewati masa tersebut daging buah akan cenderung melembek dan berair. Salah satu sawo lokal yang memiliki masa simpan yang panjang adalah sawo sumedang yang berasal dari kabupaten Sumedang, Jawa Barat yang memiliki masa simpan hingga seminggu. Sawo yag telah matang daging buahnya akan mengeras tetapi jika dimakan rasanya telah manis, berbau segar dan kandungan getahnya telah hilang (Trubus 2001). Buah sawo yang belum matang optimum mengandung zat tanin yang dapat menghambat perhitungan total padatan terlarut. Tanin merupakan senyawa yang termasuk ke dalam golongan polifenol yang memiliki aktivitas antibakteri, sehingga toksisitas tanin dapat merusak membran sel bakteri (Thu et al 2003).

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Content is protected !!