Gejala Serangan Kutu Kebul

Gejala Serangan Kutu Kebul

Gejala serangan dimulai dari menghisap cairan tanaman kedelai menggunakan stilet, khususnya daun bagian bawah pada jaringan floem. Hal ini mengakibatkan sel tumbuhan terinfeksi dan kehilangan klorofil dan pigmen-pigmen lain. Pada populasi tinggi, serangan mengakibatkan gangguan proses fisiologi tanaman dan menimbulkan gejala serangan berupa bintik klorotik. Stadia dewasa dan nimfa menghasilkan ekskresi embun madu, cairan bergula yang menenpel pada permukaan daunbagian bawah, batang dan polong kedelai (Baliadi, 2006). Ekskresi kutu kebul menghasilkan madu merupakan media yang baik untuk tempat tumbuhnya embun jelaga yang berwarna hitam.

Kutu kebul merupakan hama penghisap daun yang hebat dan vektor virus keriting daun pada tanaman kedelai. Tanaman yang telah diisapnya akan kelihatan bercak-bercak klorosis pada daunya. Hal ini akibat kelenjar yang dikeluarkan pada waktu menghisap isi sel, baik oleh kutu kebul yang dewasa maupun yang masih muda. Bercak-bercak kloris tersebut akan bergabung menjadi satu jika terjadi serangan hebat. Dengan demikian, daun menjadi menguning tidak teratur dan meluas dari urat-urat daun ke bagian tepi daun. Sisa daun yang masih hijau tinggal sedikit berupa garis sempit sekitar tulang daun. Selanjutnya, daun menjadi kering, warnanya menjadi cokelat muda, dan akhirnya rontok. Embun madu yang dikeluarkan hama ini akan menutup daun dan menghambat proses pernapasan dan asimilasi (Pracaya, 2007).

Gejala kerusakan tanaman akibat cairan tanaman dihisap oleh nimfa instar I dan imago adalah bercak kloris (kuning) pada permukaan daun. Bercak timbul akibat kelenjar yang dikeluarkan pada waktu mengisap cairan tanaman. Bila bercak bergabung daun menjadi menguning, kemudian berubah menjadi coklat muda, mengering dan akhirnya rontok.

Daun menguning secara perlahan-lahan hingga hampir keseluruh helaian, warna hijau ada di dekat tulang daun. Pada serangan hebat seluruh daun mengunuing dan mati. Selain mengisap cairan, hama ini juga mengeluarkan embun madu yang melapisi permukaan daun sehingga mengganggu proses fotosintesis dan pernafasan daun. Gejala ini sering diikuti oleh gejala penyakit virus (geminivirus).

Kutu kebul juga menghasilkan sekresi embun madu yang menyebabkan tumbuhnya cendawan jelaga yang menutupi permukaan daun dan akan menghambat proses fotosintesis. Selain itu, serangga ini juga bertindak sebagai vektor penyakit virus keriting. Makin muda tanaman yang terinfeksi virus, makin besar kerugian yang ditimbulkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.