Pengertian Tanaman Kelor

Kelor (Moringa oleifera)

Kelor sudah dikenal luas di Indonesia, khususnya di daerah pedesaan, tetapi belum dimanfaatkan secara maksimal dalam kehidupan. Di Indonesia pohon kelor banyak ditanam sebagai pagar hidup, ditanam di sepanjang ladang atau tepi sawah, berfungsi sebagai tanaman penghijauan. Selain itu tanaman kelor juga dikenal sebagai tanaman berkhasiat obat dengan memanfaatkan seluruh bagian dari tanaman kelor mulai dari daun, kulit batang, biji, hingga akarnya (Simbolan et al., 2007).

Kelor merupakan tanaman perdu yang banyak dijumpai di Indonesia sebagai tanaman pagar dan memiliki manfaat yang sangat luas. Menurut Makkar and Becker (2001) tanaman kelor termasuk bahan pakan sumber protein karena memiliki kandungan asam amino essensial seimbang di dalam daun. Tanaman ini tumbuh baik didaerah dengan curah hujan 250 s.d. 300 mm. Kelor tumbuh dalam bentuk pohon, berumur panjang (perenial) dengan tinggi 7 s.d.12 m. Batang berkayu (lignosus), tegak, berwarna putih kotor, kulit tipis, permukaan kasar. Percabangan simpodial, arah cabang tegak atau miring, cenderung tumbuh lurus dan memanjang. Daun majemuk, bertangkai panjang, tersusun berseling (alternate), beranak daun gasal (imparipinnatus), helai daun saat muda berwarna hijau muda – setelah dewasa hijau tua, bentuk helai daun bulat telur, panjang 1 s.d. 2 cm, lebar 1 s.d. 2 cm, tipis lemas, ujung dan pangkal tumpul (obtusus), tepi rata, susunan pertulangan menyirip (pinnate), permukaan atas dan bawah halus. Bunga muncul di ketiak daun (axillaris), bertangkai panjang, kelopak berwarna putih agak krem, menebar aroma khas. Buah Kelor berbentuk panjang bersegi tiga, panjang 20 s.d. 60 cm, buah muda berwarna hijau setelah tua menjadi coklat, bentuk biji bulat dan berwarna coklat kehitaman, berbuah setelah berumur 12 s.d.18 bulan. Akar tunggang, berwarna putih, membesar seperti lobak. Perbanyakan bisa secara generatif (biji) maupun vegetatif (stek batang). Tumbuh di dataran rendah maupun dataran tinggi sampai di ketinggian ± 1000 m dpl, banyak ditanam sebagai tapal batas atau pagar di halaman rumah atau ladang (Krisnadi, 2013).

Kelor tumbuh dalam bentuk pohon, berumur panjang (perenial) dengan tinggi 7s.d.12m, umumnya disebut “ drumstick” (Anwar et al., 2007). Batang berkayu (lignosus), tegak, berwarna putih kotor, kulit tipis, permukaan kasar. Nama umum Indonesia (Kelor), limaran (Jawa) Inggris (Moringa, ben-oil tree, clarifier tree, drumstick tree), Melayu (kalor, merunggai, sajina), Vietnam (Chùm ngây), Thailand (ma-rum) dan Pilipina (Malunggay).Kelor merupakan tanaman perdu yang banyak dijumpai di Indonesia sebagai tanaman pagar dan memiliki manfaat sangat luas. Menurut Hartwell (1971), bunga, daun dan akar tanaman kelor bisa dipakai sayuran dan sebagai obat tradisional. Daunnya juga bisa digunakan sebagai bahan pakan ternak domba, kambing, sapi, babi, kelinci dan cocok untuk pakan ikan-ikan budidaya seperti gurami. Kulit kayu, daun dan akar mempunyai bau yang sangat tajam dan menyengat, juga dapat digunakan untuk merangsang atau meningkatkan pencernaan. Daun kelor adalah suplemen yang mempunyai nilai gizi tinggi seperti protein dan kalsium. Dari berbagai penelitian dilaporkan bahwa daun kelor mengandung vitamin A, B, kalsium, zat besi serta protein yang tinggi. Bunga kelor dapat dikonsumsi oleh manusia dengan cara dimasak terlebih dahulu karena pada bunganya mengandung potasium dan kalsium. Daun kelor juga telah banyak digunakan sebagai pakan ternak, terutama untuk sapi dan kambing di samping untuk pupuk hijau. Akar kelor sering digunakan sebagai bumbu campuran untuk merangsang nafsu makan (Suriawiria, 2005 ).

Kelor memiliki beberapa nama daerah di Indonesia, seperti : Kelor (di Jawa, Sunda , Bali dan Lampung), Kerol (di Buru), Marongghi (di Madura), Moltong (di Flores), Kelo (di Gorontalo), Keloro (di Bugis), Kawano (di Sumba), Ongge (di Bima) dan Hau fo (di Timor-timor)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.