Cacing Sutera (Tubifex sp.)

Pengertian Cacing Sutera (Tubifex sp.)

Cacing sutra memiliki warna tubuh yang dominan kemerah-merahan. Ukuran tubuhnya sangat ramping dan halus dengan panjang 1-2 cm. cacing ini sangat senang hidup berkelompok atau bergerombolan karena masing-masing individu berkumpul menjadi koloni yang sulit diurai dan saling berkaitan satu sama lain (Khairuman dkk, 2008).

Cacing sutra termasuk organisme yang bersifat hermaphrodite atau berkelamin ganda, yaitu kelamin jantan dan betina menyatu dalam satu tubuh. Hal ini mungkin dikarenakan jaringan reproduksinya mampu membentuk gamet jantan dan gamet betina (Khairuman dkk, 2008).

Cacing sutra merupakan hewan yang berkembang biak lewat telur secara eksternal. Telur yang dibuahi oleh jantan akan membelah menjadi dua sebelum menetas. Bentuk tubuh cacing ini menyerupai rambut dengan panjang badan berkisar antara 1–3 cm dengan tubuh berwarna merah kecoklatan dengan ruas ruas. (Wira, 2007).

Habitat dan penyebaran cacing sutra umumnya berada di daerah tropis. Umumnya berada di saluran air atau kubangan dangkal berlumpur yang airnya mengalir perlahan, misalnya selokan tempat mengalirnya limbah dari pemukiman penduduk atau saluran pembuangan limbah peternakan. Dasar perairan yang banyak mengandung bahan-bahan organik terlarut merupakan habitat kesukaannya. Membenamkan kepala merupakan kebiasaan cacing ini untuk mencari makanan dan ekornya yang mengarah ke permukaan air berfungsi untuk bernafas (Khairuman dkk, 2008).

Proses perkembangbiakan cacing sutra tergolong cepat. Dalam waktu yang relatif singkat cacing ini tumbuh menjadi dewasa dan segera berkembangbiak. Di perairan yang kondisinya mendukung bagi pertumbuhannya, baik di perairan umum maupun di tempat budidaya, dalam waktu sebulan cacing ini telah dapat dipanen (Khairuman dkk, 2008).

Cacing sutra juga mengandung vitamin B12, kalsium, pantotenat, asam nikotinat dan B2 (Chumaidi dkk, 1991). Cacing tubifex selain termasuk pakan yang kaya akan protein, cacing ini juga mudah dicerna dalam tubuh ikan karena tanpa kerangka (Subandiyah, 1990).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.