Pengertian Alang-alang

Pengertian Alang-alang

Alang-alang adalah jenis rumput tahunan yang menyukai cahaya matahari, terdiri dari bagian yang mudah terbakar di atas permukaan tanah dan akar rimpang (rhizoma) yang menyebar luas di bawah permukaan tanah. Alang-alang dapat berkembang biak dengan biji dan akar rimpang, tetapi pertumbuhannya akan terhambat apabila ternaungi. Oleh karena itu, salah satu cara mengatasinya adalah dengan jalan menanam tanaman lain yang tumbuh lebih cepat dan dapat menaungi alang-alang (Friday et al., 2000).

Alang-alang tersebar luas di daerah tropik dan sub tropik. Terdapat sekitar 500 juta hektar lahan alang-alang di seluruh dunia dan sekitar 200 juta hektar terdapat di Asia Tenggara. Nama umum dari Imperata cylindrica antara lain cogon grass, spear grass, blady grass, satintail dan di Indonesia disebut alang-alang (Murniati, 2002).

Secara ekologi, vegetasi alang-alang merupakan fase perkembangan suksesi yang terhalang dalam perkembangan suatu ekosistem hutan. Fase perkembangan ekosistem hutan yang terhalang adalah sebuah fase yang menghambat suatu proses menuju fase perkembangan berikutnya. Fase yang terhalang ini bisa disebabkan tidak adanya tunggak yang masih bisa tumbuh, berkurangnya sumber benih (seed bank), kurangnya benih yang masuk dari areal sekitarnya dan atau kondisi tanah yang tidak mendukung pertumbuhan benih pada tingkat yang mampu bersaing dengan alang-alang (Murniati, 2002).

Menurut Natural Research Institute (NRI), International Rubber Research Institute (IRRI), dan International Centre for Research in Agroforestry (ICRAF) (1996) alang-alang merupakan rumput tahunan yang memerlukan nutrisi yang rendah untuk dapat tumbuh dengan baik. Alang-alang dapat tumbuh dengan baik pada tanah yang subur dan tidak subur, juga pada tanah berpasir dan tanah gambut. Alang-alang dapat bertahan pada kondisi yang kering dalam waktu yang lama dan pada tanah yang basah, tetapi tidak dapat bertahan lama pada genangan air. Sebagai tumbuhan pionir, alang-alang dapat beradaptasi dengan baik pada areal yang diganggu oleh manusia. Kebakaran yang sering terjadi merubah komposisi vegetasi suatu areal dan memberikan kesempatan bagi alang-alang untuk berkembang dan menjadi lebih rapat. Bagian rhizoma alang-alang dapat bertahan dari panas kebakaran permukaan sehingga alang-alang menjadi tahan terhadap kebakaran. Kepadatan populasi alang-alang berkisar antara 3-5 juta shoot/hektar, berat kering biomassanya mencapai 18 ton/hektar untuk bagian permukaan dan 11 ton/ hektar untuk rhizomanya. Ketika sudah berkembang, maka alang-alang merupakan bahan bakar yang sangat mudah terbakar. Kebakaran dapat mempercepat pembungaan dan pembentukan tunas akar rimpang alang-alang. Apabila sering terjadi kebakaran, maka secara bertahap alang-alang menjadi lebih dominan menutupi lahan.

Seringkali yang terjadi adalah monokultur alang-alang, kecuali apabila ada pohon-pohon atau semak yang tahan api yang masih dapat bertahan hidup di antara alang-alang (Friday et al., 2000).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.