Pengertian Kualitas Pakan Ikan

Pengertian Kualitas Pakan Ikan Budidaya

Kualitas pakan pada hakekatnya adalah menentukkan sejauh mana pakan/pelet yang diberikan mempengaruhi pertumbuhan ikan (panjang dan berat). Effendi (2002) menyatakan bahwa pertumbuhan adalah perubahan dimensi sel organ maupun makhluk hidup yang mengakibatkan pertambahan bobot atau panjang dalam waktu tertentu. Kordi (2006) menyatakan bahwa salah satu yang mempengaruhi pertumbuhan ikan adalah kandungan nutrisi yang dikandung dalam pakan ikan yang diberikan. Kandungan nutrisi pakan akan mempengaruhi pertumbuhan ikan. pakan dberikan untuk mengetahui pengaruh nutrisi bahan baku yang dibuat dengan mengamati pertumbuhan ikan selama beberapa waktu. Dalam praktiknya, pakan alami atau pakan buatan diberikan kepada ikan dengan dosis 3-8 % bobot ikan per hari.Pembarian pakan dilakukan tiga kali sehari, yaitu pagi, siang atau malam.Tatapi dalam terapan budidaya banyak pula disarankan untuk memberikan pakan kapan saja selagi ikan mau makan.Dengan demikian pakan yang diberikan lebih dari 3 – 5 %.Hal ini dapat dilakukan dengan syarat pakan termakan secara optimal oleh ikan.

Fungsi dari makanan utamanya itu sendiri yaitu untuk pemeliharaan tubuh dan mengganti jaringan tubuh yang rusak, menunjang aktivifas metabolisme dan untuk pertumbuhan secara reproduksi.

Suryaingsih (2010) menyatakan bahwa kualitas pakan tidak hanya sebatas pada nilai gizi yang dikandungnya melainkan pada sifat fisik pakan seperti kelarutannya, ketercernaanya, warna, bau, rasa dan anti nutrisi yang dikandung. Kualitas pakan juga dipengaruhi oleh bahan baku yang digunakan. Pemilihan baku yang baik dapat dilihat berdasarkan indikator nilai gizi yang dikandungnya kecernaannya (digestibility); dan daya serap (biovaibility). Pakan yang berkualitas akan mendukung tercapainya tujuan produksi yang optimal. Oleh karena itu pengetahuan tentang nutrisi, gizi, komposisi serta kualitas secara fisik perlu diketahui.

Secara tradisional jenis pakan yang berbentuk “pellet” atau moist pellet” yang terdiri dari kombinasi beberapa bahan baku yang sudah terseleksi berdasarkan atas kandungan proksimasi dan memperhitungkan kebutuhan nutrient optimal yang harus tersedia dalam pakan agar pertumbuhan dapat maksimal. Dalam penyusunan pakan berupa “pellet” prosedur yang di gunakan dalam formulasi pakan, pemberian pakan dalam formulasi lengkap berkaitan dengan susunan nutrisi pakan yang lengkap dengan bahan baku berkualitas tinggi dan mengandung profile nutrient sesuai kebutuhan yang dibudidayakan (Hutabarat,1999).

Lovell (1989) menyatakan untuk memberikan pertumbuhan maksimum banyaknya protein makanan yang diperlukan akan menurun bersamaan dengan meningkatnya umur ikan. Permberian pakan pada ikan harus memperhatikan kualitas dan jumlah pakan.Kualitas pakan meliputi sifat-sifat fisik yaitu bentuk serta ukurannya harus tepat dan sifat kimia yaitu kandungan zat-zat didalam bahan pakan yang mempengaruhi nilai nutrisi pakan.

Warna merupakan salah satu alasan ikan yang diminati oleh masyarakat, sehingga pembudidaya perlu memperhatikan warna ikan yaitu dengan cara memberikan pakan yang mengandung pigmen warna. Warna pada ikan disebabkan adanya sel kromatofora yang terdapat pada kulit bagian dermis. Sel ini diklasifikasikan menjadi lima kategori warna dasar yaitu eritrifora yang menghasilkan warna merah dan oranye, xanthofora yang menghasilkan warna kuning, melanofora yang menghasilkan warna hitam, leukofora yang menghasilkan warna putih, dan iridefora yang dapat memantulkan refleksi cahaya. Ikan hanya dapat mensintesis pigmen warna hitam dan putih, warna merah, orange dan kuning tidak dapat disintesis oleh tubuh ikan sehingga pembentukan warna pada ikan mas sangat bergantung pada jumlah karatenoid yang ada pada pakan seperti jagung (Imam,2012).

Kebutuhan mendasar dalam pembuatan pakan ikan adalah nutrisinya, maka perlu pertimbangan untuk menambahkan bahan tambahan sebagai sumber pewarnaan dalam pakan ikan budidaya. Bahan pewarna itu lebih dikenal dengan karotenoid yang paling efektif dan dominan untuk pewarnaan pada ikan adalah karatenoid dari kelas xantofil, jagung merupakan bahan baku sumber energy dan juga sumber xantofil dan karatenoid (Lesmana dan Sugito, 1997).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *